Cerita Islami Sunan Kalijogo (MAPSI SD)

Assalamualaikum warahmatullohi wabarokatuh

Bismillahirrohmanirrohim Alhamdulillahirobbil’alamin Wassolatuwasalamu’ala sayyidina Muhammad wa’ala alihi wasohbihi ajma’in amaa ba’du.

Bapak/Ibu dewan juri yang kami hormati, Bapak dan Ibu guru yang kami hormati, serta sahabat-sahabatku yang berbahagia. Apa kabar semuanya?

Perkenankan hari ini saya akan membawakan cerita Sejarah yang berjudul “Sunan Kalijogo”.

Sunan Kalijogo adalah salah satu tokoh yang sangat berperan dalam menyebarkan agama islam di Pulau Jawa.

Sunan Kalijogo memiliki nama asli Raden Masaid atau Raden Said.

Beliau adalah seorang anak Adipati Tuban yang bernama Ki Tumenggung Wilatikta.

Raden Said dikenal suka menolong rakyat-rakyat miskin yang kelaparan.

Alkisah pada suatu hari, terjadilah musim paceklik, di mana banyak rakyat-rakyat miskin yang kelaparan, sehingga Raden Said pun berinisiatif untuk mencuri bahan makanan di Gudang Istana milik ayahnya. Dan membagikannya kepada rakyat-rakyat miskin yang kelaparan.

Hingga suatu ketika, ketahuan, dan dibawa ke hadapan ayahnya.

“Raden Said, kenapa engkau mencuri? Memalukan saja” kata ayahnya

“Mohon maafkan hamba, Ayahanda, hamba mencuri hanya untuk menolong rakyat-rakyat miskin yang kelaparan. Kasihan mereka, sudah berhari-hari tidak makan” kata Raden Said

“Tetap saja! Kamu harus dihukum cambuk 200 kali atau kuusir dari istana ini. Prajurit cambuk dia!”

Tetapi setelah diusir, beliau tetap melakukan aksinya itu. Hingga suatu ketika, bertemu dengan orang yang memakai jubah putih dan membawa tongkat, seakan-akan tongkat itu terbuat dari emas.

Raden Said pun merebutnya secara paksa, dan menyebabkan orang itu tersungkur jatuh.

“Aduuh! Apa yang Tuan lakukan, Astaghfirulloh hal ‘adziim

“Maafkan saya, saya kira tongkatmu ini terbuat dari emas, eh ternyata cuma tongkat biasa. Ini, tongkatmu saya kembalikan. Sudah jangan menangis!”

“Bukan, bukan tongkat ini yang aku tangisi, tetapi aku sudah berbuat dosa, rumput-rumput ini tercabut sebab aku terjatuh tadi. Astaghfirulloh hal ‘adziim

“Aaah cuma beberapa helai saja Tuan merasa berdosa. Sudah, tidak usah merasa berdosa!”

“Memang, memang berdosa, karna aku mencabutnya tanpa sebuah kebutuhan. Bila untuk makanan ternak itu tidak apa, namun bila untuk sebuah kesia-siaan, sungguh sebuah dosa. Astaghfirulloh hal ‘adziim… Lagi pula, perbuatanmu selama ini, ibarat mencuci pakaian yang kotor menggunakan air kencing. Tidak akan menambah wangi dan bersih pakaian itu, justru malah menambah kotor dan bau pakaian itu. Kalau kau ingin harta, ini aku kasih pohon aren berbuah emas. (Criing)”

Raden Said semakin dibuat terpukau dengan keajaiban tongkat orang yang memakai jubah putih tersebut. Yang tak lain, beliau adalah Kanjeng Sunan Bonang.

Muncullah inisiatif untuk berguru kepada beliau. Tetapi, sebagai syaratnya Raden Said disuruh menjadi tongkat yang ditancapkan di pinggir kali selama 3 tahun.

“Waktu berlalu, hari demi hari berganti, tubuh Raden Said pun ditumbuhi dengan rumput-rumput liar. Karena kegigihannya, dia mendapatkan gelar Sunan Kalijogo dan diangkat menjadi anggota wali songo.

Teman-teman, dari cerita di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan yang baik harus dilakukan dengan cara-cara yang baik. Dan kita harus bisa menjaga amanah dengan sebaik-baiknya.

Sudah dulu ya ceritanya.

Lihat TV dapat berita, jangan lupa nonton bola

Kalau ada salah cerita, mohon maaf ya..

Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh 

Comments